7 Feb 2013

sebuah cerpen (Tiga Hari Untuk Cinta)


Tiga Hari Untuk Cinta
            “Cintaaaa... minum obatnya”
            Suara setengah melengking itu selalu keluar dari mulut Mamanya Cinta. Seakan bila tidak menenggak butiran pil kecil itu, Cinta akan game over alias meninggal.
            “sudah Ma, memangnya apa sih fungsi obat-obat ini?” tanya Cinta yang kesekian kalinya.
            “sana berangkat sekolah nanti telat” kata wanita yang masih amat bagus tubuhnya itu.
            “iya.. oke”
            Dengan pakaian putih birunya, Cinta pergi ke sekolah bersama Pak Min, supir pribadinya menggunakan Mercy. Sesampainya di depan gerbang sekolahnya, Cinta sudah disambut oleh Hasbi, sahabatnya sejak Cinta masih ngompol. Orang tua Hasbi adalah sahabat dekatnya orang tua Cinta, jadi jelas saja hubungan kakak adik sekaligus sahabat bisa berlangsung selama kurang lebih 13 tahun lamanya.
            “selamat pagi tuan putri...” ucap Hasbi bak pengawal kerajaan seraya tubuhnya membungkuk memberi hormat.
            Cinta tertawa, “hahaha, selamat pagi juga tuan” jawabnya dan langsung berlalu dengan menggaet tangan laki-laki yang satu tahun lebih tua darinya itu.
            “Cinta, besok kamu pergi ke rumah sakit lagi?” tanya Hasbi ketika mereka telah sampai di kelas Cinta.
            Setiap hari selasa sore, Cinta dan Mamanya harus pergi ke rumah sakit. Cinta sendiri tidak tahu itu untuk apa. Sejak usianya 10 tahun hingga sekarang, Cinta tak pernah absen untuk diinfus di ruma sakit. Kebiasaan yang menurut Hasbi itu sangat aneh! Tidak sakit kok diinfus?
            “iya Bi”
            “Oh, yaudah kamu masuk sana, istirahat nanti kamu aku samper” kata Hasbi dan langsung nyelonong pergi tanpa mendengar respon putri kecilnya.
*
            “aaaah... jangan itu obat aku Galih!” teriak Cinta. Tangannya menggapai-gapai kelangit hendak mengambil botol obat yang dirampas paksa oleh Galih. Seisi kelas tidak ada yang berkutik selain...
            “heh! Lepasin nggak tuh Obat atau lo gua...” belum sempat Hasbi menyudahi perkataannya Galih sudah mati kutu, menaruh botol transparan itu dan langsung berlari pergi.
            “kamu nggak apa-apa kan Cin?” tanya Hasbi ketika posisi mereka sudah saling hadap.
            Cinta langsung menghambur ke tubuh yang jauh lebih besar dari dirinya itu. Terisak-isak dan lalu menjawab, “kamu selalu ada buat aku Bi, makasih kak”
            Hasbi memeluk gadis mungil itu di dalam dekapannya. Selalu begini. Kalau Cinta sudah dijahili orang terutama Galih yang nggak pernah bosan menindas bidadari Hasbi itu, ia selalu menangis di pelukan Hasbi.
            “aku akan selalu ada buat kamu bidadari kecilku” katanya pelan di telinga Cinta.
*
            Hari ini Cinta pergi ke rumah sakit Mitra Keluarga pukul 4 teng! Bersama sang Mama. Dengan menggunakan Alphard hitam, mereka berdua meluncur ke rumah sakit tersebut.
            “halo Cinta, ketemu lagi kita” sapa Dr. Dimas ketika melihat gadis berambut panjang itu berlari menghampiri dirinya.
            “halo dokter, apa kabar? Cinta udah siap diinfus lagi” ucap Cinta. Setelahnya Cinta langsung di bawa ke sebuah ruangan untuk diinfus. Seperti biasa.
            Setelah lama berada di ruang berbau karbol berwarna putih suci sesuci hatinya, Cinta keluar dengan wajah... kesakitan. Seperti biasa.
            “terima kasih dokter...” kata Mamanya Cinta memecahkan keheningan.
            “Bu, sebaiknya Cinta tahu akan hal ini” balas Dr. Dimas pelan. Sangat pelan.
            “tidak Dok, saya tidak mau Cinta menganggap dirinya lemah, biarkan dia hidup normal seperti teman-temannya” kata Mamanya Cinta dengan volume yang sama.
            “bakteri Neisseria meningitidis dalam tubuh putri Anda sudah menyebar ke peredaran darah dan tidak lama lagi dia akan...”
*
            Meliana, Mamanya Cinta, kini sedang termenung di balkon rumah. Menatap sendu langit sore yang mulai tergantikan dengan awan gelap. Meliana terus memikirkan kelangsungan hidup putri sematawayangnya. Meningitis. Penyakit yang disebabkan karena peradangan pada meninges, selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang, sudah meronggoti tubuh Cinta sejak dua tahun belakangan ini.
Parahnya, Cinta mengidap Meningitis yang disebabkan karena Bakteri dan itu berarti Meliana harus siap jika suatu saat nanti Cinta akan dipanggil yang maha kuasa terkecuali sebuah keajaiban akan terjadi pada putri kecilnya.
            “Mama kenapa kok bengong aja?” tanya Cinta seraya melangkah mendekati Mamanya.
            “tidak Cinta, Mama hanya kangen dengan almarhum ayahmu” jawab Meliana.
            “Ma, Cinta kangen sama Ayah, Mama bagaimana?”
            Sepertinya akibat dari meningitis di tubuh Cinta muncul lagi. Dengan mata yang berkaca-kaca, Meliana berkata lirih, “Cinta jangan nyusul ayah ya? Mama masih butuh Cinta, Cinta juga masih kecil. Jadi, Mama mohon Cinta tetap bersama Mama”
            Cinta menatap Mamanya bingung, “maksud mama?”
*
            Malam sudah datang. Bintang di langit malam kini sedang berhamburan membentuk gugusan-gugusan indah. Namun, tiba-tiba dari dalam kamar bercat merah muda berbau aromaterapi buah strobery itu, Cinta memekik-mekik kesakitan.
            “Mama! Mamaaaaaa!” teriak Cinta, “Tolong Cinta Mama!” lanjutnya masih dengan volume yang menggelegar.
            Meliana bergegas berlari menuju kamar putrinya dengan masih mengenakan piyama, “Cinta! Cinta sadar! Bangun sayaaaaang...” kata Meliana.
            Tanpa pikir panjang Meliana langsung membawa Cinta ke rumah sakit Mitra keluarga. Dan di perjalanan tak lupa Meliana menghubungi Dr. Dimas. Terdengar dari nada bicara dokter muda itu, tampaknya ia juga sama paniknya dengan Meliana. Sekitar 15 menit akhirnya Meliana sampai di rumah sakit. Dengan satu kali teriakan histeris, para suster sudah datang berhamburan dengan membawa troli pasien untuk menaruh Cinta yang masih dalam keadaan pingsan.
            “saya sudah mengatakan hal ini sebelumnya tapi Anda menganggap hal ini remeh” kata Dr. Dimas ketika menerima kondisi Cinta yang sedang diambang kematiannya.
            “tolong selamatkan putri saya!” tegas Meliana.
            Dr. Dimas masuk ke dalam IGD. Sekitar satu jam 15 menit akhirnya ia dan tim medis yang lain keluar.
            “bakteri sudah menyebar hampir keseluruh peredaran darahnya. Cinta akan bisa bertahan paling lama tiga hari. Dan kami akan terus berusaha menyelamatkan putri Anda walau itu susah” kata Dr. Dimas panjang lebar.
            “selamatkan dia Dok, hanya dia yang saya punya. Suami saya meninggal juga karena penyakit sialana ini” balas Meliana.
            Dr. Dimas tersenyum simpul lalu menjawab, “serahkan pada Tuhan Bu”
*
            Kabar berita Cinta dirawat di rumah sakit sudah cepat menyebar. Hasbi adalah laki-laki satu-satunya yang langsung bergegas pulang meminta izin dengan alasan sakit. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung menuju tempat Cinta dirawat dengan sepeda Fixienya. Setelah 30 menit berjibaku dengan panasnya matahari akhirnya Hasbi sampai di kamar 313, tempat Cinta dirawat. Ternyata Cinta sudah siuman. Melihat kedatangan Hasbi dengan secepat kilat Cinta meraih tubuh tegap itu ke dalam pelukannya.
            “Cinta kangen Hasbi. Kok baru jenguk Cinta sih?” katanya dengan wajah cemberut.
            “Putri Hasbi yang paling manis, maafkan daku baru menjengukmu. Sungguh Hasbi panik mendengar Cinta sakit” katanya bak seorang pangeran.
            “kamu selalu bisa membuat Cinta tertawa Bi, Cinta sayang Hasbi” Balas Cinta diiringi tawa lepasnya.
            Deg! Seketika jantung Hasbi berhenti berdetak. Kata-kata Cinta cukup membuatnya limbung dan hampir jatuh terduduk saking kagetnya.
            “Cinta sayang Hasbi?” tanya Hasbi hati-hati.
            “iya dong, sebagai adik dan sahabat yang baik memang harus begitu” jawab Cinta dengan wajah berseri.
            Cinta tetaplah Cinta. Ia terlalu polos untuk bisa menyadari bahwa dari dulu Hasbi menyayanginya. Ingin menjadi lebih dari seorang sahabat atau pun kakak untuk Cinta. Namun, sepertinya Cinta lebih mengira Hasbi sayang kepada dirinya karena ia adik atau sahabat Hasbi.
*
            Hari ini Cinta amat memukau dengan rambutnya yang digerai lurus kebelakang. Sebuah bando berpita tersemat di kepalanya. Cinta kini sedang duduk di kursi roda menatap beberapa anak kecil yang sedang berlari-larian memegang bola di tangannya. Pemandangan yang amat membuat Cinta mampu menyunggingkan senyum manis di bibirnya. Walau semua orang tahu, dirinya sedang menahan beribu sakit di tubuhnya.
            Hasbi melangkah pasti menghampiri orang tersayangnya itu. Cinta tersenyum sekilas ke arahnya dan melanjutkan kembali memerhatikan anak-anak kecil di sekelilingnya.
            “kamu cantik hari ini Cinta” ucap Hasbi seraya menekuk kaki kanannya hingga menyentuh tanah di sebelah Cinta.
            “selalu dan selalu hehehe” balas Cinta. Dari nada bicaranya tidak ada secuil rasa sakit pun di tubuhnya. Namun, siapa yang tahu?
            “iya kau selalu cantik untukku Cin. Kau tahu itu”
            “ya”
            “Cinta aku ingin jujur kepadamu. Rasanya aku harus bicara sekarang juga sebelum aku menyesal” Hasbi merapatkan tubuhnya ke kursi roda Cinta.
            “bicara aja selama itu masih gratis” jawab Cinta setengah bercanda. Di tengah-tengah keadaan mencekam seperti ini masih saja Cinta bisa bercanda. Dari kejauhan terlihat Mamamnya Cinta memantau. Satu lambaian tangan menandakan bahwa Mamanya Cinta sedang bilang “sayang Mama disini”
            Cinta hanya tersenyum membalas lambaian itu dan lanjut menatap Hasbi.
            “aku mencintaimu” kata Hasbi pelan.
            “aku tidak mendengarnya Bi, lebih kencang lagi” balas Cinta.
            “aku mencintaimu Cinta” volume suara Hasbi mengeras sehingga mengundang tatapan bingung orang-orang di sekitarnya.
            “iya aku tahu” timpal Cinta biasa.
            “aku mencintaimu lebih dari sahabat atau pun kakak. Aku cinta padamu”
            Cinta tiba-tiba mencengkeram lehernya sendiri. Seperti ingin memberitahu bahwa ia tiba-tiba kesulitan bernafas.
            “kau kenapa Cinta?” pekik Hasbi seraya mengguncang-guncang tubuh mungil itu.
            Meliana tiba-tiba datang dengan dua orang sukter plus satu troli pasien. Dengan sekuat tenaga, Hasbi merebahkan tubuh Cinta di atasnya. Dengan mata penuh air mata, Hasbi ikut dengan Cinta.
            “Tante... sebenarnya Cinta sakit apa?” tanya Hasbi di tengah-tengah perjalanan. “apa dia akan mati?” lanjutnya hati-hati.
            Setelah Cinta ditangani Dr. Dimas dan tim medis lainnya di dalam IGD, barulah Meliana menjawab, “Cintaaaaa... umurnya hanya sampai—“ kata-katanya terhenti. Setelah mengatur deru nafasnya yang tidak stabil, Meliana kembali berkata, “hari ini”
            Isak tangis keduanya keluar kepermukaan. Hasbi tidak habis pikir, perasaannya selama tiga hari belakangan ini benar. Cinta akan segera meninggalkannya dan Hasbi tidak ingin Cinta tidak mengetahui betapa besar cintanya pada Cinta. Dan untunglah Hasbi sudah melakukannya tadi.
            Dr. Dimas keluar. Para tim medis berangusr-angsur juga ikut keluar. Wajah mereka diselimuti kekecewaan. Apa Cinta sudaaaah...
            “Dok! Bagaimana dengan Cinta?” tanya Hasbi lebih dulu.
            “dia baik-baik saja kan?” tanya Meliana setelah itu.
            “dia sudah kembali ke sisinya Bu, Nak. Dan sebelum menghebuskan nafas terakhir Cinta sempat mengigau kalau dia mencintai Mamanya dan—“ kata-kata Dr. Dimas tersendat begitu saja. “dan Hasbi, siapa itu? Kau?” lanjutnya seraya menunjuk Hasbi yang masih dalam keadaan terpukul
            “iya” jawab Hasbi lirih.
            Oh tuhan! Ternyata Cinta juga mencintaiku, tapi kenapa dia hanya diam saja tadi. Memandangiku seperti aku hanya kakak atau sahabatnya? Tapi sudahlah yang penting aku mengetahui rasa cinta di diri Cinta untukku. Dan ku harap Cinta tenang di sisi Tuhan, amin, batin Hasbi dengan tangis yang mengalir deras membasahi pipinya.

sebuah cerpen (Cinta Tanpa Pandang Bulu)


Cinta Tanpa Pandang Bulu
            “Kenalin anak-anak ini Bisma” kata Bu Rina, di sebelahnya sudah berdiri laki-laki berambut agak gondrong dan berbehel. “Bisma, sekarang kamu duduk di sebelah Gee”
            Bisma melangkah dengan pesonanya menuju meja paling belakang. Gee yang sedang asik mendengarkan lagu dari headseatnya terkejut melihat laki-laki duduk di sebelahnya. “Ngapain lo?”
            “Gua kan disuruh Bu Rina duduk sini, kuping lo kemana hey?” Bisma menimpali sedikit emosi
            “Oh” jawab Gee cuek. Ia kembali melanjutkan mendengarkan lagu favoritnya melalui headseat.
            “Pelajaran dimulai, Gee, copot headseat kamu!” kata Bu Rina lantang.
            Gee adalah murid berprestasi di sekolah Merdeka, tapi punya predikat paling…
*
            Saat istirahat pertamanya di sekolah Merdeka, Bisma beranjak ke kantin seorang diri, tapi di perjalan mata Bisma terpaku dengan kejadian aneh di pojok sekolah samping perpustakaan.
            “Kamu apa-apaan sih Gee, aku tuh kemarin udah pegel nungguin kamu di kafe, tapi kamu nggak dateng” kata Meri dengan nada yang agak tinggi.
            Gee hanya menunduk, bibirnya digigit. Dan Bisma ingin sekali menarik Gee dari hadapan gadis yang sedang membentak-bentak Gee itu.
            “Kamu udah nggak sayang sama aku, kamu mau ikutin kata-kata orang yang bilang kita itu menjijikan? Kamu mau kita putus?” Meri melanjutkan kata-katanya. Kini gadis berambut bondol itu sedang berkacak pinggang.
            Bisma seperti terpelanting mendengar kata-kata gadis berbadan nyaris seperti laki-laki itu. Putus? Memangnya mereka pacaran? Mereka lesbian? Mana mungkin?, berondong Bisma dalam hati.
            “Maafin aku Meri” akhirnya Gee angkat bicara.
            “Oh namanya Meri” kata Bisma pelan dan Brak! Kakinya tak sengaja menginjak kaleng dan alhasil Meri serta Gee mencium bahwa ada orang lain selain dirinya..
            “Hey! Siapa di sana?” teriak Meri. Namun, Bisma sudah terlanjur beranjak dari persembunyiannya. Kali ini Bisma berhasil lari.
*
            Hari ini adalah hari kedua Bisma bersekolah di SMU Merdeka, sekolah favorit di daerah tempat ia tinggal. Dengan motor ninja putihnya, Bisma pergi ke sekolah anak-anak elite itu.
            “Bro!” teriak Frans. Salah satu teman Bisma di kelas XI A 3.
            “Lo manggil gua?” Bisma balik badan.
            “Hati-hati meeen.. Lo duduk bareng sama Gee, cewek lesbi di Merdeka” kata Frans dengan intonasi yang diperkecil. Bisma mundur selangkah, dilihatnya tubuh laki-laki dihadapannya. Nggak punya etika banget ngomongin orang, batinnya kesal. Tanpa melanjutkan perbincangannya dengan Frans, Bisma langsung nyelonong pergi.
*
            Sesampainya di kelas, Bisma tidak bisa tinggal diam melihat Gee yang sedang dibentak-bentak oleh Rere, gadis shopaholic dan ketua gank dari ‘medicure’, gank paling terkenal di SMU Merdeka.
            “Apa-apaan sih lo! Jangan salahin Gee dong! Kalau dia lesbi kenapa? Lo nggak suka? Emang diri lo udah bener? Ngaca dulu deh!” kata Bisma. Intonasi suaranya meninggi. Tangannya hampir melayang menampar Rere kalau saja Bisma tidak menahannya.
            “Puas lo triak-triak bilang gua lesbi? Puas?!” teriak Gee kepada Bisma dan langsung berlari keluar kelas. Tak lama dari Gee keluar Bu Rina masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran. Dan Bisma mengurungkan niatnya untuk menyusul Gee.
*
            Hari ini Gee izin pulang karena sakit, dan Bisma yakin itu hanya alasan. Setelah mendapat alamat rumah Gee dari ruang tata usaha, Bisma menuju kompleks Indah Permai tempat Gee tinggal.
            “Aku pamit ya tante, sore…”
            Bisma mendecak kagum. Kagum karena melihat Meri yang 180 derajat berbeda sifatnya –yang marah-marah nggak jelas sama Gee— saat berpamitan dengan Gee dan wanita yang di samping Gee yang Bisma yakin itu adalah ibu Gee.
            Meri berlalu di hadapan Bisma. Senyum liciknya terlukis di wajah dingin itu dan Bisma hanya bisa diam.
            “Sore tante, saya mau ketemu sama Gee sebentar” kata Bisma.
            “Oh iya silahkan, yaudah mama ke dalem dulu ya” jawab ibunya Gee.
            Gee menarik Bisma keluar dari rumahnya. Ia membawa Bisma ke taman kompleks yang tak jauh dari rumah mewah itu.
            “Mau ngapain lo ke rumah gua?” tanya Gee setelah sampai di taman yang sedang sepi itu.
            “Sepertinya nyokap lo belum tau kalau lo…” Bisma tidak jadi melanjutkan kata-katanya.
            “Lesbi? Iya emang nyokap gua belum tahu. Dan kalau ampe dia tahu itu karena lo!”
            “Gee..! lo tuh cantik lagi, kenapa harus lesbi?”
            Gee menjauh. Ia duduk di sebuah bangku kayu yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. “Karena gua capek ngarepin cowok! Cukup ya gua ngejomblo karena cengok nungguin cowok yang ternyata nggak sayang sama sekali sama gua” katanya. Nada bicara Gee lurus dan badannya gemetar.
            “Maksud lo?” Bisma mendekat dan ikut duduk di samping Gee. “Gua ngerti Gee tapi lo jangan…”
            “GEE! Ngapain sih lo deket-deket sama cowok ini” Meri tiba-tiba muncul dan langsung menarik Gee ke belakangnya. “Cowok ini mau hancurin hubungan kita!”      “Jangan lo bikin Gee jadi nggak bener kayak gini! Lu tau kan lesbian itu gimana dipandang orang. Lo berdua jangan gila deh. Stop dari hubungan gila ini. ini tuh menyimpang” cerocos Bisma. Ia mencoba menarik Gee, tapi Meri lebih kuat darinya dan pergi bersama Gee.
*
            Sudah lebih dari sebulan Bisma muak dengan hubungan-hubungan aneh yang sliweran dari kedua matanya. Ia tak tahu harus bagaimana meluruskan orang-orang di sekitarnya ini.
            “Hai Gee…” sapa Bisma ketika bertemu Gee di kantin sekolah seorang diri.           Gee seorang diri karena tidak ada yang mau berteman dengan dirinya. Gee juga tidak habis pikir, mengapa wanita tidak boleh saling mencintai? Bukankah jumlah wanita di dunia ini lebih banyak daripada laki-laki? Kalau tidak melakukan cinta sejenis, lalu wanita-wanita yang tersisa itu harus bagaimana? Jadi perawan tua? Atau malah makan hati karena harus diselingkuhi atau bahkan dipoligami?
            Belum sempat Gee menjawab sapaan Bisma, Meri sudah muncul di hadapannya dan kembali membawa Gee pergi menjauh dari Bisma.
            “Meri! Lo apa-apain sih” teriak Bisma. Ia mencoba mengejar Meri dan Gee, namun ia kalah cepat. Kedua orang itu keburu hilang dari hadapannya.
*
            Bisma mengucap syukur ketika melihat Gee dan Meri di hadapannya.
            “Gee!” katanya setengah berteriak.
            “Bisma…!” balas Gee dengan volume yang sama.
            “Meri! Lepasin Gee… jangan buat hidup orang hancur!” Bisma kembali angkat suara.
            “Kenapa sih orang-orang mikir lesbian itu menjijikan? Kenapa? Orang jadi lesbian juga karena para cowok! Mereka terlalu jual mahal. Nggak ngerti rasanya jadi cewek. Dan karena itu kita jadi lesbian!” teriak Meri. Tangannya tetap menggenggam tangan mungil Gee.
            “Kalian nggak salah. Lesbian itu nggak menjijikan kok, tapi please normal itu lebih indah” timpal Bisma.
            “Gua dan Gee begini sama-sama karena cowok. Mereka nggak tahu perasaan kita saat ngemis-ngemis minta cinta ke mereka. Cowok tuh sok jual mahal” kata Meri. Intonasinya meninggi dan ia mulai melangkah mundur mendekati jurang yang sudah menganga beberapa langkah di belakangnya dan juga Gee.
            “Hey! Kalian mau ngapain? Di belakang kalian itu jurang” teriak Bisma. Kakinya perlahan mendekati Meri dan Gee.
            “lebih baik gua dan Gee mati. Mungkin di dunia lain gua dan Gee bisa membina cinta kita yang di sini dianggap menjijikan ini” kata Meri. Kakinya tetap melangkah mundur. Dan Gee otomatis ikut melangkah mundur.
            “Meri! Kamu gila ya” Gee angkat bicara.
            “Kamu cinta kan sama aku Gee?” tanya Meri kepada Gee. Mereka berhenti di beberapa senti dari tepi jurang.
            “Aku nggak cinta sama kamu Meri! Aku ngelakuin ini karena paksaan kamu dan karena hasutan kamu! Dan aku baru sadar itu sekarang” kata Gee dan ia memberontak agar terlepas dari genggaman Meri.
            Meri diam. Wajahnya pongo melihat Gee yang berubah 100% di hadapannya. Dan dia mulai melangkah mundur dan….
            “Gee!!!! Awas” Bisma dengan cepat meraih tangan Gee dan membawa gadis mungil itu ke dalam dekapannya.
            “Meriii!!!” teriak Gee. Ia menangis histeris melihat Meri terjatuh ke dalam jurang yang tak begitu dalam itu. Hampir saja dirinya ikut terjun ke dalam jurang kalau saja Bisma telat meraih tangannya.
            “Gee…. Untung kamu nggak ikut jatuh” kata Bisma. Tangannya membelai halus rambut Gee.
            “Meri itu nggak salah Bis, jangan salahin dia jadi lesbian. Aku ngerti kenapa dia begini dan karena itu aku juga harus jadi lesbi. Aku juga capek Bis dijauhin orang-orang karena hubungan aku dan Meri yang dipandang orang menjijikan ini” kata Gee di dalam dekepan Bisma.
            “Mungkin kamu dan Meri begini karena cowok, tapi aku janji akan membuat kamu lepas dari hal ini. aku akan ubah pandangan orang-orang tentang kamu. Kita bisa jalan bareng-bareng Gee” balas Bisma. Ia mempererat dekapannya.
            Dan tiba-tiba sebuah liontin menyembul keluar dari seragam yang Gee pakai.
            “Liontin ini?” gumam Bisma.
            “Ini dari cowok yang udah pernah bikin aku sakit hati waktu aku…”
            “SD?” tanya Bisma seraya meraih liontin itu.
            “kamu….” Kata Gee gemetar. Ia baru menyadari siapa laki-laki yang ada di hadapannya.
            “Geesela? Kamu Geesela kan? Ini kan liontin dari aku” balas Bisma.
            Gee tersenyum hangat dan mulai membuka liontin itu, di dalamnya ada dua buah foto yang tersemat rapi. “Bisma Ghani….” Katanya pelan.
            “maafin aku karena pernah ninggalin kamu Gee, aku akan bayar ini sekarang” kata Bisma seraya mengecup hangat kening Gee. “pantesan aja sejak ngeliat kamu, aku familiar dengan muka kamu”
            Sekarang Gee mulai sadar, inilah cinta aslinya dan inilah dirinya sebenarnya. Tidak usah berpura-pura untuk menjadi lesbi karena ingin melupakan sakit hatinya dengan seorang pria yang pernah meninggalkan dirinya dulu yang kini sudah ada di hadapan matanya bahkan kembali mengisi relung hatinya.

sebuah cerpen (jangan salahkan naura)


Jangan salahkan Naura
            Semua karena Naura. Sekali kalimat itu meluap ke permukaan. Karena Naura, Mama meninggal. Karena Naura, Ayah pergi entah kemana dan menikah dengan perempuan yang kabarnya seumuran denganku. Sekali lagi, semua ini karena adik semata wayangku yang baru berumur enam tahun itu. Aku tidak mengharapkan kehadirannya, malah membenciny,  karena ia aku kehilangan semuanya.
            Mama yang setiap pagi membangunkanku, menyiapkan aku sarapan dan berkata “Hati-hati pergi ke kantornya Wenda” dari balik pagar, sudah tidak ada karena berjuang mempertaruhkan nyawa Naura yang sama sekali tidak aku inginkan.
            Memang waktu Mama mengandung Naura, aku amat sangat antusias menantikan kehadiran bocah ingusan tersebut karena aku pikir, nantinya hidupku akan penuh suka cita seperti semua teman-temanku yang memiliki adik. Namun, ternyata aku salah! Kehidupanku menjadi kelam ketika Naura hadir di dalam hidupku.
            Tiga tahun sudah aku mengurusnya setelah ayah yang tiba-tiba menghilang. Mendengar tangisannya karena terus menerus ingin bertemu Mama. Mendengar rengekannya karena meminta mainan seperti teman-temannya. Semua itu membuatku pusing dan muak. Hubunganku dengan Dimas, tunanganku, menjadi renggang karena setiap malam minggu aku harus merelakan waktu kencanku dengan menemani Naura menonton di rumah. Benar-benar kehidupan yang mneyebalkan!
            Pagi ini aku ada meeting di kantor. Meeting ini adalah tonggak untuk karierku di perusahan swasta tersebut. Namun, lagi-lagi Naura membuatku jengkel. Di pagi buta seperti ini tiba-tiba badannya panas. Ia juga tak berhenti menangis. Setelah aku beri parasetamol, panasnya sudah mulai reda, tapi ia tetap merengek-rengek memintaku jangan meninggalkannya di rumah dengan Bik Nah.
            “Kamu tuh nggak ngerti apa?! Pekerjaan Kakak lebih penting dari pada harus ngurusin kamu Naura!” kataku. Emosiku sudah ada di ubun-ubun dan siap meledak saat itu juga.
            “Kakak jahat!” Naura menangis. Sedetik kemudian Bik Nah datang.
            “Sudah Non pergi saja, biar Naura sama Bibik” katanya seraya menggendok adik tidak tahu diri itu! Kalau aku tidak bekerja, siapa yang mau memberinya makan, mainan, jajan, dan semua perlengkapannya? Ayah? Mana mungkin!
            “Iya sudah... jaga dia, jangan sampai buat ulah” kataku.
            Setelah masuk ke dalam mobil, aku langsung menginjak pedal gas dan meluncur menuju kantorku di kawasan Menteng. Kira-kira 30 menit kemudian, aku tiba. Untung saja meeting akan berlangsung 10 menit lagi. Kali ini aku selamat.
*
            Meeting tadi pagi berjalan lancar. Aku mendapatkan reward dari perusahaan. Rumah baru! Yup! Aku mendapatkan rumah besar di daerah Kemang. Sungguh beruntung diriku ini.
            Sore pun menyapa diriku yang sudah lelah, aku pun bergegas pulang. Kalau tidak, Naura akan menelponku dan suara manjanya yang tidak mau aku dengar itu akan masuk ke dalam rongga telingaku dan membuyarkan kegembiraan ini.
            Aku sampai di rumah pukul delapan malam. Naura sudah tertidur. Untunglah. Namun, Bik Nah sempat berkata kalau panas Naura kembali meninggi. Awalnya aku sempat panik, gitu-gitu Naura masih darah dagingku, tapi setelah Bik Nah bilang panasnya menurun dengan cepat, aku langsung tersenyum dan ngeloyor ke kamar untuk relaksasi setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.
*
            Hari ini adalah hari sabtu, yang berarti hari libur untukku. Aku sedang meneguk teh chamomile di teras belakang rumah. Tiba-tiba Naura datang menghambur, bergelayutan di kakiku, meminta agar aku menggambarkan wajah Mama di kertas yang sudah ia bawa.
            “Kakak Wenda, gambarin muka Mama dong” Naura tersenyum ke arahku.
            “Nggak!” aku menyingkirkan Naura dari kakiku.
            “Naura belum tahu muka Mama, kok kakak nggak mau gambarin? Kakak kok gitu sih”
            “Gitu gimana? Salah siapa Mama jadi meninggal? Salah kamu Naura. Kamu. Kamu yang buat Mama meninggal. Mama meninggal demi kamu. Inget itu” kataku panjang lebar. Mataku melotot ke arahnya.
            “Kakak kenapa sih benci banget sama aku? Apa perlu aku mati aja nyusul Mama?”
            Aku terperangah mendengar kata-kata itu. Untuk anak seumuran Naura, seharusnya ia belum bisa mengatakan hal itu. Aku tiba-tiba teringat akan kata-kata Mama saat mengandung bocah ini, “Kalau nanti adek kamu lahir, kamu harus janji sama Mama, kamu mau merawatnya”
            Aku merasa tertimpa ratusan batu kali sata itu. Semua yang berat-berat rasanya ada di pundakku saat itu. Ingin rasanya aku memeluk adikku untuk saat itu, tapi gengsiku terlalu besar rupanya.
            “Jawab kak! Kenapa kakak benci banget sama aku? Huaaa... huaaa... huaaa...” kini tangis Naura meledak. Aku segera meninggalkannya dan tak lama dari itu Bik Nah datang untuk menenangkan bocah itu.
*
            Sudah tiga hari ini, Naura tidak merengek-rengek kepadaku. Tidak menyusahkanku. Apalagi berbicara denganku. Setiap bertemu denganku ia langsung menunduk dan berlari menghampiri Bik Nah, lalu mengajak Bik Nah masuk ke dalam kamar. Entah ada angin apa, anak itu tiba-tiba menjadi seperti itu.
            Aku pun sedikit merasa rindu dengan rengekkannya. Rindu saat dia bergelayut manja di tubuhku. Menasehatiku sok dewasa dengan gaya bicaranya yang sebenarnya amat lucu. Tapi, kenapa aku baru tersadar sekarang, kalau sebenarnya hidup Naura itu menyedihkan.
            “Noooon, boleh Bibik masuk?” suara Bik Nah ada di balik pintu kamarku.
            “Boleh Bik” jawabku sederhana. Tak lama Bik Nah membuka pintu dan duduk di lantai dekat aku duduk sekarang.
            “Duduk di sini aja, Bik” ajakku. Lalu Bik Nah duduk di samping ku, di tempat tidurku.
            “Non, harusnya bisa menyayangi Non Naura” Bik Nah langusng to the point. Ada guratan permohonan di wajahnya yang sudah hampir keriput termakan usia.
            “Harus memangnya?” tanyaku sembari memiringkan wajah.
            “Non pikir deh, Non Naura nggak pernah merasakan kasih sayang Ibu dan Bapak. Sedangkan Non, pernah, tapi Non malah menyalahkan Non Naura karena meninggalnya Ibu dan perginya Bapak. Jangan begitu Non...” ucap Bik Nah seraya mengelus-elus pelan pundak kiriku.
            Ya, Bik Nah memang benar, dan aku baru sadar akan hal itu beberapa hari ini. Naura sebenarnya amat membutuhkan kasih sayangku. Satu-satunya darah dagingku yang masih berada di dekatku hanya tinggal dirinya.
            “Iya Bik, aku sadar itu...” air mataku mulai muncul.
            “Tolonglah buat hari-hari Non Naura bahagia. Berikan ia rasa cinta dan kasih sayang dari seorang Ibu... Walau itu harus dari tangan, Non” Bik Nah mulai merangkulku. Dekapan keibuannya membuat aku semakin terisak-isak memingat mendiang Mama.
            “Baik Bik, Wenda janji...” desahku masih dalam pelukan Bik Nah.
*
            Pagi yang cerah menyapa. Dengan lihai tanganku mengoles-ngoles roti dengan krim strobery kesukaan Naura. Segelas susu vanila kesukaan Naura juga sudah aku sediakan. Ini semua khusus untuk dirinya. Aku ingin membuatnya bahagia mulai hari ini!
            “Pagi adik kakak yang paling cantiiiiiik” sapaku ketika Naura berjalan mendekatiku.
            “Kakak kesambet apa jadi baik begini?” tanyanya polos.
            “Mulai sekarang kakak akan memberikan semua cinta kakak untuk Naura, Naura harus janji ya jangan buat kakak jadi kesel lagi” aku menyodorkan kelingking kananku.
            “Janji” katanya mantap sembari menyambut kelingkingku.
            “Alhamdulillah, kalian akur juga” tiba-tiba Bik Nah muncul membawa nasi goreng.
            “Bik, Naura mau makan roti buatan kak Wenda aja” Naura langsung menyambar roti yang baru saja selesai aku buat. “Pasti ini lebih enak deh, pasti sama rasanya dengan rasa buatan Mama waktu buatin ini untuk kak Wenda”
            Setitik air mata sudah ada di sudut mataku, dengan secepat kilat aku menyekanya. Aku tidak ingin menangis di hadapan Naura dan membuat moodku yang indah di pagi ini hancur.
            Naura, ternyata wajahmu dan cara bicaramu sama seperti Mama, aku baru sadar itu.


sebuah foto