7 Feb 2013

sebuah cerpen (Cinta Tanpa Pandang Bulu)


Cinta Tanpa Pandang Bulu
            “Kenalin anak-anak ini Bisma” kata Bu Rina, di sebelahnya sudah berdiri laki-laki berambut agak gondrong dan berbehel. “Bisma, sekarang kamu duduk di sebelah Gee”
            Bisma melangkah dengan pesonanya menuju meja paling belakang. Gee yang sedang asik mendengarkan lagu dari headseatnya terkejut melihat laki-laki duduk di sebelahnya. “Ngapain lo?”
            “Gua kan disuruh Bu Rina duduk sini, kuping lo kemana hey?” Bisma menimpali sedikit emosi
            “Oh” jawab Gee cuek. Ia kembali melanjutkan mendengarkan lagu favoritnya melalui headseat.
            “Pelajaran dimulai, Gee, copot headseat kamu!” kata Bu Rina lantang.
            Gee adalah murid berprestasi di sekolah Merdeka, tapi punya predikat paling…
*
            Saat istirahat pertamanya di sekolah Merdeka, Bisma beranjak ke kantin seorang diri, tapi di perjalan mata Bisma terpaku dengan kejadian aneh di pojok sekolah samping perpustakaan.
            “Kamu apa-apaan sih Gee, aku tuh kemarin udah pegel nungguin kamu di kafe, tapi kamu nggak dateng” kata Meri dengan nada yang agak tinggi.
            Gee hanya menunduk, bibirnya digigit. Dan Bisma ingin sekali menarik Gee dari hadapan gadis yang sedang membentak-bentak Gee itu.
            “Kamu udah nggak sayang sama aku, kamu mau ikutin kata-kata orang yang bilang kita itu menjijikan? Kamu mau kita putus?” Meri melanjutkan kata-katanya. Kini gadis berambut bondol itu sedang berkacak pinggang.
            Bisma seperti terpelanting mendengar kata-kata gadis berbadan nyaris seperti laki-laki itu. Putus? Memangnya mereka pacaran? Mereka lesbian? Mana mungkin?, berondong Bisma dalam hati.
            “Maafin aku Meri” akhirnya Gee angkat bicara.
            “Oh namanya Meri” kata Bisma pelan dan Brak! Kakinya tak sengaja menginjak kaleng dan alhasil Meri serta Gee mencium bahwa ada orang lain selain dirinya..
            “Hey! Siapa di sana?” teriak Meri. Namun, Bisma sudah terlanjur beranjak dari persembunyiannya. Kali ini Bisma berhasil lari.
*
            Hari ini adalah hari kedua Bisma bersekolah di SMU Merdeka, sekolah favorit di daerah tempat ia tinggal. Dengan motor ninja putihnya, Bisma pergi ke sekolah anak-anak elite itu.
            “Bro!” teriak Frans. Salah satu teman Bisma di kelas XI A 3.
            “Lo manggil gua?” Bisma balik badan.
            “Hati-hati meeen.. Lo duduk bareng sama Gee, cewek lesbi di Merdeka” kata Frans dengan intonasi yang diperkecil. Bisma mundur selangkah, dilihatnya tubuh laki-laki dihadapannya. Nggak punya etika banget ngomongin orang, batinnya kesal. Tanpa melanjutkan perbincangannya dengan Frans, Bisma langsung nyelonong pergi.
*
            Sesampainya di kelas, Bisma tidak bisa tinggal diam melihat Gee yang sedang dibentak-bentak oleh Rere, gadis shopaholic dan ketua gank dari ‘medicure’, gank paling terkenal di SMU Merdeka.
            “Apa-apaan sih lo! Jangan salahin Gee dong! Kalau dia lesbi kenapa? Lo nggak suka? Emang diri lo udah bener? Ngaca dulu deh!” kata Bisma. Intonasi suaranya meninggi. Tangannya hampir melayang menampar Rere kalau saja Bisma tidak menahannya.
            “Puas lo triak-triak bilang gua lesbi? Puas?!” teriak Gee kepada Bisma dan langsung berlari keluar kelas. Tak lama dari Gee keluar Bu Rina masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran. Dan Bisma mengurungkan niatnya untuk menyusul Gee.
*
            Hari ini Gee izin pulang karena sakit, dan Bisma yakin itu hanya alasan. Setelah mendapat alamat rumah Gee dari ruang tata usaha, Bisma menuju kompleks Indah Permai tempat Gee tinggal.
            “Aku pamit ya tante, sore…”
            Bisma mendecak kagum. Kagum karena melihat Meri yang 180 derajat berbeda sifatnya –yang marah-marah nggak jelas sama Gee— saat berpamitan dengan Gee dan wanita yang di samping Gee yang Bisma yakin itu adalah ibu Gee.
            Meri berlalu di hadapan Bisma. Senyum liciknya terlukis di wajah dingin itu dan Bisma hanya bisa diam.
            “Sore tante, saya mau ketemu sama Gee sebentar” kata Bisma.
            “Oh iya silahkan, yaudah mama ke dalem dulu ya” jawab ibunya Gee.
            Gee menarik Bisma keluar dari rumahnya. Ia membawa Bisma ke taman kompleks yang tak jauh dari rumah mewah itu.
            “Mau ngapain lo ke rumah gua?” tanya Gee setelah sampai di taman yang sedang sepi itu.
            “Sepertinya nyokap lo belum tau kalau lo…” Bisma tidak jadi melanjutkan kata-katanya.
            “Lesbi? Iya emang nyokap gua belum tahu. Dan kalau ampe dia tahu itu karena lo!”
            “Gee..! lo tuh cantik lagi, kenapa harus lesbi?”
            Gee menjauh. Ia duduk di sebuah bangku kayu yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. “Karena gua capek ngarepin cowok! Cukup ya gua ngejomblo karena cengok nungguin cowok yang ternyata nggak sayang sama sekali sama gua” katanya. Nada bicara Gee lurus dan badannya gemetar.
            “Maksud lo?” Bisma mendekat dan ikut duduk di samping Gee. “Gua ngerti Gee tapi lo jangan…”
            “GEE! Ngapain sih lo deket-deket sama cowok ini” Meri tiba-tiba muncul dan langsung menarik Gee ke belakangnya. “Cowok ini mau hancurin hubungan kita!”      “Jangan lo bikin Gee jadi nggak bener kayak gini! Lu tau kan lesbian itu gimana dipandang orang. Lo berdua jangan gila deh. Stop dari hubungan gila ini. ini tuh menyimpang” cerocos Bisma. Ia mencoba menarik Gee, tapi Meri lebih kuat darinya dan pergi bersama Gee.
*
            Sudah lebih dari sebulan Bisma muak dengan hubungan-hubungan aneh yang sliweran dari kedua matanya. Ia tak tahu harus bagaimana meluruskan orang-orang di sekitarnya ini.
            “Hai Gee…” sapa Bisma ketika bertemu Gee di kantin sekolah seorang diri.           Gee seorang diri karena tidak ada yang mau berteman dengan dirinya. Gee juga tidak habis pikir, mengapa wanita tidak boleh saling mencintai? Bukankah jumlah wanita di dunia ini lebih banyak daripada laki-laki? Kalau tidak melakukan cinta sejenis, lalu wanita-wanita yang tersisa itu harus bagaimana? Jadi perawan tua? Atau malah makan hati karena harus diselingkuhi atau bahkan dipoligami?
            Belum sempat Gee menjawab sapaan Bisma, Meri sudah muncul di hadapannya dan kembali membawa Gee pergi menjauh dari Bisma.
            “Meri! Lo apa-apain sih” teriak Bisma. Ia mencoba mengejar Meri dan Gee, namun ia kalah cepat. Kedua orang itu keburu hilang dari hadapannya.
*
            Bisma mengucap syukur ketika melihat Gee dan Meri di hadapannya.
            “Gee!” katanya setengah berteriak.
            “Bisma…!” balas Gee dengan volume yang sama.
            “Meri! Lepasin Gee… jangan buat hidup orang hancur!” Bisma kembali angkat suara.
            “Kenapa sih orang-orang mikir lesbian itu menjijikan? Kenapa? Orang jadi lesbian juga karena para cowok! Mereka terlalu jual mahal. Nggak ngerti rasanya jadi cewek. Dan karena itu kita jadi lesbian!” teriak Meri. Tangannya tetap menggenggam tangan mungil Gee.
            “Kalian nggak salah. Lesbian itu nggak menjijikan kok, tapi please normal itu lebih indah” timpal Bisma.
            “Gua dan Gee begini sama-sama karena cowok. Mereka nggak tahu perasaan kita saat ngemis-ngemis minta cinta ke mereka. Cowok tuh sok jual mahal” kata Meri. Intonasinya meninggi dan ia mulai melangkah mundur mendekati jurang yang sudah menganga beberapa langkah di belakangnya dan juga Gee.
            “Hey! Kalian mau ngapain? Di belakang kalian itu jurang” teriak Bisma. Kakinya perlahan mendekati Meri dan Gee.
            “lebih baik gua dan Gee mati. Mungkin di dunia lain gua dan Gee bisa membina cinta kita yang di sini dianggap menjijikan ini” kata Meri. Kakinya tetap melangkah mundur. Dan Gee otomatis ikut melangkah mundur.
            “Meri! Kamu gila ya” Gee angkat bicara.
            “Kamu cinta kan sama aku Gee?” tanya Meri kepada Gee. Mereka berhenti di beberapa senti dari tepi jurang.
            “Aku nggak cinta sama kamu Meri! Aku ngelakuin ini karena paksaan kamu dan karena hasutan kamu! Dan aku baru sadar itu sekarang” kata Gee dan ia memberontak agar terlepas dari genggaman Meri.
            Meri diam. Wajahnya pongo melihat Gee yang berubah 100% di hadapannya. Dan dia mulai melangkah mundur dan….
            “Gee!!!! Awas” Bisma dengan cepat meraih tangan Gee dan membawa gadis mungil itu ke dalam dekapannya.
            “Meriii!!!” teriak Gee. Ia menangis histeris melihat Meri terjatuh ke dalam jurang yang tak begitu dalam itu. Hampir saja dirinya ikut terjun ke dalam jurang kalau saja Bisma telat meraih tangannya.
            “Gee…. Untung kamu nggak ikut jatuh” kata Bisma. Tangannya membelai halus rambut Gee.
            “Meri itu nggak salah Bis, jangan salahin dia jadi lesbian. Aku ngerti kenapa dia begini dan karena itu aku juga harus jadi lesbi. Aku juga capek Bis dijauhin orang-orang karena hubungan aku dan Meri yang dipandang orang menjijikan ini” kata Gee di dalam dekepan Bisma.
            “Mungkin kamu dan Meri begini karena cowok, tapi aku janji akan membuat kamu lepas dari hal ini. aku akan ubah pandangan orang-orang tentang kamu. Kita bisa jalan bareng-bareng Gee” balas Bisma. Ia mempererat dekapannya.
            Dan tiba-tiba sebuah liontin menyembul keluar dari seragam yang Gee pakai.
            “Liontin ini?” gumam Bisma.
            “Ini dari cowok yang udah pernah bikin aku sakit hati waktu aku…”
            “SD?” tanya Bisma seraya meraih liontin itu.
            “kamu….” Kata Gee gemetar. Ia baru menyadari siapa laki-laki yang ada di hadapannya.
            “Geesela? Kamu Geesela kan? Ini kan liontin dari aku” balas Bisma.
            Gee tersenyum hangat dan mulai membuka liontin itu, di dalamnya ada dua buah foto yang tersemat rapi. “Bisma Ghani….” Katanya pelan.
            “maafin aku karena pernah ninggalin kamu Gee, aku akan bayar ini sekarang” kata Bisma seraya mengecup hangat kening Gee. “pantesan aja sejak ngeliat kamu, aku familiar dengan muka kamu”
            Sekarang Gee mulai sadar, inilah cinta aslinya dan inilah dirinya sebenarnya. Tidak usah berpura-pura untuk menjadi lesbi karena ingin melupakan sakit hatinya dengan seorang pria yang pernah meninggalkan dirinya dulu yang kini sudah ada di hadapan matanya bahkan kembali mengisi relung hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar