Cinta Tanpa Pandang Bulu
“Kenalin anak-anak
ini Bisma” kata Bu Rina, di sebelahnya sudah berdiri laki-laki berambut agak
gondrong dan berbehel. “Bisma, sekarang kamu duduk di sebelah Gee”
Bisma melangkah
dengan pesonanya menuju meja paling belakang. Gee yang sedang asik mendengarkan
lagu dari headseatnya terkejut melihat laki-laki duduk di sebelahnya. “Ngapain
lo?”
“Gua kan disuruh Bu Rina
duduk sini, kuping lo kemana hey?” Bisma menimpali sedikit emosi
“Oh” jawab Gee
cuek. Ia kembali melanjutkan mendengarkan lagu favoritnya melalui headseat.
“Pelajaran dimulai,
Gee, copot headseat kamu!” kata Bu Rina lantang.
Gee adalah murid
berprestasi di sekolah Merdeka, tapi punya predikat paling…
*
Saat istirahat
pertamanya di sekolah Merdeka, Bisma beranjak ke kantin seorang diri, tapi di
perjalan mata Bisma terpaku dengan kejadian aneh di pojok sekolah samping
perpustakaan.
“Kamu apa-apaan sih
Gee, aku tuh kemarin udah pegel nungguin kamu di kafe, tapi kamu nggak dateng”
kata Meri dengan nada yang agak tinggi.
Gee hanya menunduk,
bibirnya digigit. Dan Bisma ingin sekali menarik Gee dari hadapan gadis yang
sedang membentak-bentak Gee itu.
“Kamu udah nggak
sayang sama aku, kamu mau ikutin kata-kata orang yang bilang kita itu
menjijikan? Kamu mau kita putus?” Meri melanjutkan kata-katanya. Kini gadis
berambut bondol itu sedang berkacak pinggang.
Bisma seperti terpelanting
mendengar kata-kata gadis berbadan nyaris seperti laki-laki itu. Putus?
Memangnya mereka pacaran? Mereka lesbian? Mana mungkin?, berondong Bisma dalam
hati.
“Maafin aku Meri”
akhirnya Gee angkat bicara.
“Oh namanya Meri”
kata Bisma pelan dan Brak! Kakinya tak sengaja menginjak kaleng dan alhasil
Meri serta Gee mencium bahwa ada orang lain selain dirinya..
“Hey! Siapa di sana ?” teriak Meri. Namun,
Bisma sudah terlanjur beranjak dari persembunyiannya. Kali ini Bisma berhasil
lari.
*
Hari ini adalah
hari kedua Bisma bersekolah di SMU Merdeka, sekolah favorit di daerah tempat ia
tinggal. Dengan motor ninja putihnya, Bisma pergi ke sekolah anak-anak elite
itu.
“Bro!” teriak
Frans. Salah satu teman Bisma di kelas XI A 3.
“Lo manggil gua?”
Bisma balik badan.
“Hati-hati meeen..
Lo duduk bareng sama Gee, cewek lesbi di Merdeka” kata Frans dengan intonasi
yang diperkecil. Bisma mundur selangkah, dilihatnya tubuh laki-laki
dihadapannya. Nggak punya etika banget ngomongin orang, batinnya kesal. Tanpa
melanjutkan perbincangannya dengan Frans, Bisma langsung nyelonong pergi.
*
Sesampainya di
kelas, Bisma tidak bisa tinggal diam melihat Gee yang sedang dibentak-bentak
oleh Rere, gadis shopaholic dan ketua gank dari ‘medicure’, gank paling
terkenal di SMU Merdeka.
“Apa-apaan sih lo!
Jangan salahin Gee dong! Kalau dia lesbi kenapa? Lo nggak suka? Emang diri lo
udah bener? Ngaca dulu deh!” kata Bisma. Intonasi suaranya meninggi. Tangannya
hampir melayang menampar Rere kalau saja Bisma tidak menahannya.
“Puas lo
triak-triak bilang gua lesbi? Puas?!” teriak Gee kepada Bisma dan langsung
berlari keluar kelas. Tak lama dari Gee keluar Bu Rina masuk ke dalam kelas
untuk memulai pelajaran. Dan Bisma mengurungkan niatnya untuk menyusul Gee.
*
Hari ini Gee izin
pulang karena sakit, dan Bisma yakin itu hanya alasan. Setelah mendapat alamat
rumah Gee dari ruang tata usaha, Bisma menuju kompleks Indah Permai tempat Gee
tinggal.
“Aku pamit ya
tante, sore…”
Bisma mendecak
kagum. Kagum karena melihat Meri yang 180 derajat berbeda sifatnya –yang
marah-marah nggak jelas sama Gee— saat berpamitan dengan Gee dan wanita yang di
samping Gee yang Bisma yakin itu adalah ibu Gee.
Meri berlalu di
hadapan Bisma. Senyum liciknya terlukis di wajah dingin itu dan Bisma hanya
bisa diam.
“Sore tante, saya
mau ketemu sama Gee sebentar” kata Bisma.
“Oh iya silahkan,
yaudah mama ke dalem dulu ya” jawab ibunya Gee.
Gee menarik Bisma keluar
dari rumahnya. Ia membawa Bisma ke taman kompleks yang tak jauh dari rumah
mewah itu.
“Mau ngapain lo ke
rumah gua?” tanya Gee setelah sampai di taman yang sedang sepi itu.
“Sepertinya nyokap
lo belum tau kalau lo…” Bisma tidak jadi melanjutkan kata-katanya.
“Lesbi? Iya emang
nyokap gua belum tahu. Dan kalau ampe dia tahu itu karena lo!”
“Gee..! lo tuh
cantik lagi, kenapa harus lesbi?”
Gee menjauh. Ia
duduk di sebuah bangku kayu yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. “Karena
gua capek ngarepin cowok! Cukup ya gua ngejomblo karena cengok nungguin cowok
yang ternyata nggak sayang sama sekali sama gua” katanya. Nada bicara Gee lurus
dan badannya gemetar.
“Maksud lo?” Bisma
mendekat dan ikut duduk di samping Gee. “Gua ngerti Gee tapi lo jangan…”
“GEE! Ngapain sih
lo deket-deket sama cowok ini” Meri tiba-tiba muncul dan langsung menarik Gee
ke belakangnya. “Cowok ini mau hancurin hubungan kita!” “Jangan lo bikin Gee jadi nggak bener kayak gini! Lu tau kan lesbian itu gimana
dipandang orang. Lo berdua jangan gila deh. Stop dari hubungan gila ini. ini
tuh menyimpang” cerocos Bisma. Ia mencoba menarik Gee, tapi Meri lebih kuat
darinya dan pergi bersama Gee.
*
Sudah lebih dari
sebulan Bisma muak dengan hubungan-hubungan aneh yang sliweran dari kedua
matanya. Ia tak tahu harus bagaimana meluruskan orang-orang di sekitarnya ini.
“Hai Gee…” sapa
Bisma ketika bertemu Gee di kantin sekolah seorang diri. Gee seorang diri karena tidak ada yang mau berteman dengan
dirinya. Gee juga tidak habis pikir, mengapa wanita tidak boleh saling mencintai?
Bukankah jumlah wanita di dunia ini lebih banyak daripada laki-laki? Kalau
tidak melakukan cinta sejenis, lalu wanita-wanita yang tersisa itu harus
bagaimana? Jadi perawan tua? Atau malah makan hati karena harus diselingkuhi
atau bahkan dipoligami?
Belum sempat Gee
menjawab sapaan Bisma, Meri sudah muncul di hadapannya dan kembali membawa Gee
pergi menjauh dari Bisma.
“Meri! Lo apa-apain
sih” teriak Bisma. Ia mencoba mengejar Meri dan Gee, namun ia kalah cepat. Kedua
orang itu keburu hilang dari hadapannya.
*
Bisma mengucap
syukur ketika melihat Gee dan Meri di hadapannya.
“Gee!” katanya
setengah berteriak.
“Bisma…!” balas Gee
dengan volume yang sama.
“Meri! Lepasin Gee…
jangan buat hidup orang hancur!” Bisma kembali angkat suara.
“Kenapa sih
orang-orang mikir lesbian itu menjijikan? Kenapa? Orang jadi lesbian juga
karena para cowok! Mereka terlalu jual mahal. Nggak ngerti rasanya jadi cewek.
Dan karena itu kita jadi lesbian!” teriak Meri. Tangannya tetap menggenggam
tangan mungil Gee.
“Kalian nggak
salah. Lesbian itu nggak menjijikan kok, tapi please normal itu lebih indah”
timpal Bisma.
“Gua dan Gee begini
sama-sama karena cowok. Mereka nggak tahu perasaan kita saat ngemis-ngemis
minta cinta ke mereka. Cowok tuh sok jual mahal” kata Meri. Intonasinya
meninggi dan ia mulai melangkah mundur mendekati jurang yang sudah menganga
beberapa langkah di belakangnya dan juga Gee.
“Hey! Kalian mau
ngapain? Di belakang kalian itu jurang” teriak Bisma. Kakinya perlahan mendekati
Meri dan Gee.
“lebih baik gua dan
Gee mati. Mungkin di dunia lain gua dan Gee bisa membina cinta kita yang di
sini dianggap menjijikan ini” kata Meri. Kakinya tetap melangkah mundur. Dan
Gee otomatis ikut melangkah mundur.
“Meri! Kamu gila
ya” Gee angkat bicara.
“Kamu cinta kan sama aku Gee?” tanya
Meri kepada Gee. Mereka berhenti di beberapa senti dari tepi jurang.
“Aku nggak cinta
sama kamu Meri! Aku ngelakuin ini karena paksaan kamu dan karena hasutan kamu!
Dan aku baru sadar itu sekarang” kata Gee dan ia memberontak agar terlepas dari
genggaman Meri.
Meri diam. Wajahnya
pongo melihat Gee yang berubah 100% di hadapannya. Dan dia mulai melangkah
mundur dan….
“Gee!!!! Awas”
Bisma dengan cepat meraih tangan Gee dan membawa gadis mungil itu ke dalam
dekapannya.
“Meriii!!!” teriak
Gee. Ia menangis histeris melihat Meri terjatuh ke dalam jurang yang tak begitu
dalam itu. Hampir saja dirinya ikut terjun ke dalam jurang kalau saja Bisma
telat meraih tangannya.
“Gee…. Untung kamu
nggak ikut jatuh” kata Bisma. Tangannya membelai halus rambut Gee.
“Meri itu nggak
salah Bis, jangan salahin dia jadi lesbian. Aku ngerti kenapa dia begini dan
karena itu aku juga harus jadi lesbi. Aku juga capek Bis dijauhin orang-orang
karena hubungan aku dan Meri yang dipandang orang menjijikan ini” kata Gee di
dalam dekepan Bisma.
“Mungkin kamu dan
Meri begini karena cowok, tapi aku janji akan membuat kamu lepas dari hal ini.
aku akan ubah pandangan orang-orang tentang kamu. Kita bisa jalan bareng-bareng
Gee” balas Bisma. Ia mempererat dekapannya.
Dan tiba-tiba
sebuah liontin menyembul keluar dari seragam yang Gee pakai.
“Liontin ini?”
gumam Bisma.
“Ini dari cowok
yang udah pernah bikin aku sakit hati waktu aku…”
“SD?” tanya Bisma
seraya meraih liontin itu.
“kamu….” Kata Gee
gemetar. Ia baru menyadari siapa laki-laki yang ada di hadapannya.
“Geesela? Kamu
Geesela kan ?
Ini kan
liontin dari aku” balas Bisma.
Gee tersenyum
hangat dan mulai membuka liontin itu, di dalamnya ada dua buah foto yang
tersemat rapi. “Bisma Ghani….” Katanya pelan.
“maafin aku karena
pernah ninggalin kamu Gee, aku akan bayar ini sekarang” kata Bisma seraya
mengecup hangat kening Gee. “pantesan aja sejak ngeliat kamu, aku familiar
dengan muka kamu”
Sekarang Gee mulai
sadar, inilah cinta aslinya dan inilah dirinya sebenarnya. Tidak usah
berpura-pura untuk menjadi lesbi karena ingin melupakan sakit hatinya dengan
seorang pria yang pernah meninggalkan dirinya dulu yang kini sudah ada di
hadapan matanya bahkan kembali mengisi relung hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar