7 Feb 2013

sebuah cerpen (jangan salahkan naura)


Jangan salahkan Naura
            Semua karena Naura. Sekali kalimat itu meluap ke permukaan. Karena Naura, Mama meninggal. Karena Naura, Ayah pergi entah kemana dan menikah dengan perempuan yang kabarnya seumuran denganku. Sekali lagi, semua ini karena adik semata wayangku yang baru berumur enam tahun itu. Aku tidak mengharapkan kehadirannya, malah membenciny,  karena ia aku kehilangan semuanya.
            Mama yang setiap pagi membangunkanku, menyiapkan aku sarapan dan berkata “Hati-hati pergi ke kantornya Wenda” dari balik pagar, sudah tidak ada karena berjuang mempertaruhkan nyawa Naura yang sama sekali tidak aku inginkan.
            Memang waktu Mama mengandung Naura, aku amat sangat antusias menantikan kehadiran bocah ingusan tersebut karena aku pikir, nantinya hidupku akan penuh suka cita seperti semua teman-temanku yang memiliki adik. Namun, ternyata aku salah! Kehidupanku menjadi kelam ketika Naura hadir di dalam hidupku.
            Tiga tahun sudah aku mengurusnya setelah ayah yang tiba-tiba menghilang. Mendengar tangisannya karena terus menerus ingin bertemu Mama. Mendengar rengekannya karena meminta mainan seperti teman-temannya. Semua itu membuatku pusing dan muak. Hubunganku dengan Dimas, tunanganku, menjadi renggang karena setiap malam minggu aku harus merelakan waktu kencanku dengan menemani Naura menonton di rumah. Benar-benar kehidupan yang mneyebalkan!
            Pagi ini aku ada meeting di kantor. Meeting ini adalah tonggak untuk karierku di perusahan swasta tersebut. Namun, lagi-lagi Naura membuatku jengkel. Di pagi buta seperti ini tiba-tiba badannya panas. Ia juga tak berhenti menangis. Setelah aku beri parasetamol, panasnya sudah mulai reda, tapi ia tetap merengek-rengek memintaku jangan meninggalkannya di rumah dengan Bik Nah.
            “Kamu tuh nggak ngerti apa?! Pekerjaan Kakak lebih penting dari pada harus ngurusin kamu Naura!” kataku. Emosiku sudah ada di ubun-ubun dan siap meledak saat itu juga.
            “Kakak jahat!” Naura menangis. Sedetik kemudian Bik Nah datang.
            “Sudah Non pergi saja, biar Naura sama Bibik” katanya seraya menggendok adik tidak tahu diri itu! Kalau aku tidak bekerja, siapa yang mau memberinya makan, mainan, jajan, dan semua perlengkapannya? Ayah? Mana mungkin!
            “Iya sudah... jaga dia, jangan sampai buat ulah” kataku.
            Setelah masuk ke dalam mobil, aku langsung menginjak pedal gas dan meluncur menuju kantorku di kawasan Menteng. Kira-kira 30 menit kemudian, aku tiba. Untung saja meeting akan berlangsung 10 menit lagi. Kali ini aku selamat.
*
            Meeting tadi pagi berjalan lancar. Aku mendapatkan reward dari perusahaan. Rumah baru! Yup! Aku mendapatkan rumah besar di daerah Kemang. Sungguh beruntung diriku ini.
            Sore pun menyapa diriku yang sudah lelah, aku pun bergegas pulang. Kalau tidak, Naura akan menelponku dan suara manjanya yang tidak mau aku dengar itu akan masuk ke dalam rongga telingaku dan membuyarkan kegembiraan ini.
            Aku sampai di rumah pukul delapan malam. Naura sudah tertidur. Untunglah. Namun, Bik Nah sempat berkata kalau panas Naura kembali meninggi. Awalnya aku sempat panik, gitu-gitu Naura masih darah dagingku, tapi setelah Bik Nah bilang panasnya menurun dengan cepat, aku langsung tersenyum dan ngeloyor ke kamar untuk relaksasi setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.
*
            Hari ini adalah hari sabtu, yang berarti hari libur untukku. Aku sedang meneguk teh chamomile di teras belakang rumah. Tiba-tiba Naura datang menghambur, bergelayutan di kakiku, meminta agar aku menggambarkan wajah Mama di kertas yang sudah ia bawa.
            “Kakak Wenda, gambarin muka Mama dong” Naura tersenyum ke arahku.
            “Nggak!” aku menyingkirkan Naura dari kakiku.
            “Naura belum tahu muka Mama, kok kakak nggak mau gambarin? Kakak kok gitu sih”
            “Gitu gimana? Salah siapa Mama jadi meninggal? Salah kamu Naura. Kamu. Kamu yang buat Mama meninggal. Mama meninggal demi kamu. Inget itu” kataku panjang lebar. Mataku melotot ke arahnya.
            “Kakak kenapa sih benci banget sama aku? Apa perlu aku mati aja nyusul Mama?”
            Aku terperangah mendengar kata-kata itu. Untuk anak seumuran Naura, seharusnya ia belum bisa mengatakan hal itu. Aku tiba-tiba teringat akan kata-kata Mama saat mengandung bocah ini, “Kalau nanti adek kamu lahir, kamu harus janji sama Mama, kamu mau merawatnya”
            Aku merasa tertimpa ratusan batu kali sata itu. Semua yang berat-berat rasanya ada di pundakku saat itu. Ingin rasanya aku memeluk adikku untuk saat itu, tapi gengsiku terlalu besar rupanya.
            “Jawab kak! Kenapa kakak benci banget sama aku? Huaaa... huaaa... huaaa...” kini tangis Naura meledak. Aku segera meninggalkannya dan tak lama dari itu Bik Nah datang untuk menenangkan bocah itu.
*
            Sudah tiga hari ini, Naura tidak merengek-rengek kepadaku. Tidak menyusahkanku. Apalagi berbicara denganku. Setiap bertemu denganku ia langsung menunduk dan berlari menghampiri Bik Nah, lalu mengajak Bik Nah masuk ke dalam kamar. Entah ada angin apa, anak itu tiba-tiba menjadi seperti itu.
            Aku pun sedikit merasa rindu dengan rengekkannya. Rindu saat dia bergelayut manja di tubuhku. Menasehatiku sok dewasa dengan gaya bicaranya yang sebenarnya amat lucu. Tapi, kenapa aku baru tersadar sekarang, kalau sebenarnya hidup Naura itu menyedihkan.
            “Noooon, boleh Bibik masuk?” suara Bik Nah ada di balik pintu kamarku.
            “Boleh Bik” jawabku sederhana. Tak lama Bik Nah membuka pintu dan duduk di lantai dekat aku duduk sekarang.
            “Duduk di sini aja, Bik” ajakku. Lalu Bik Nah duduk di samping ku, di tempat tidurku.
            “Non, harusnya bisa menyayangi Non Naura” Bik Nah langusng to the point. Ada guratan permohonan di wajahnya yang sudah hampir keriput termakan usia.
            “Harus memangnya?” tanyaku sembari memiringkan wajah.
            “Non pikir deh, Non Naura nggak pernah merasakan kasih sayang Ibu dan Bapak. Sedangkan Non, pernah, tapi Non malah menyalahkan Non Naura karena meninggalnya Ibu dan perginya Bapak. Jangan begitu Non...” ucap Bik Nah seraya mengelus-elus pelan pundak kiriku.
            Ya, Bik Nah memang benar, dan aku baru sadar akan hal itu beberapa hari ini. Naura sebenarnya amat membutuhkan kasih sayangku. Satu-satunya darah dagingku yang masih berada di dekatku hanya tinggal dirinya.
            “Iya Bik, aku sadar itu...” air mataku mulai muncul.
            “Tolonglah buat hari-hari Non Naura bahagia. Berikan ia rasa cinta dan kasih sayang dari seorang Ibu... Walau itu harus dari tangan, Non” Bik Nah mulai merangkulku. Dekapan keibuannya membuat aku semakin terisak-isak memingat mendiang Mama.
            “Baik Bik, Wenda janji...” desahku masih dalam pelukan Bik Nah.
*
            Pagi yang cerah menyapa. Dengan lihai tanganku mengoles-ngoles roti dengan krim strobery kesukaan Naura. Segelas susu vanila kesukaan Naura juga sudah aku sediakan. Ini semua khusus untuk dirinya. Aku ingin membuatnya bahagia mulai hari ini!
            “Pagi adik kakak yang paling cantiiiiiik” sapaku ketika Naura berjalan mendekatiku.
            “Kakak kesambet apa jadi baik begini?” tanyanya polos.
            “Mulai sekarang kakak akan memberikan semua cinta kakak untuk Naura, Naura harus janji ya jangan buat kakak jadi kesel lagi” aku menyodorkan kelingking kananku.
            “Janji” katanya mantap sembari menyambut kelingkingku.
            “Alhamdulillah, kalian akur juga” tiba-tiba Bik Nah muncul membawa nasi goreng.
            “Bik, Naura mau makan roti buatan kak Wenda aja” Naura langsung menyambar roti yang baru saja selesai aku buat. “Pasti ini lebih enak deh, pasti sama rasanya dengan rasa buatan Mama waktu buatin ini untuk kak Wenda”
            Setitik air mata sudah ada di sudut mataku, dengan secepat kilat aku menyekanya. Aku tidak ingin menangis di hadapan Naura dan membuat moodku yang indah di pagi ini hancur.
            Naura, ternyata wajahmu dan cara bicaramu sama seperti Mama, aku baru sadar itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar