7 Feb 2013

sebuah cerpen (Tiga Hari Untuk Cinta)


Tiga Hari Untuk Cinta
            “Cintaaaa... minum obatnya”
            Suara setengah melengking itu selalu keluar dari mulut Mamanya Cinta. Seakan bila tidak menenggak butiran pil kecil itu, Cinta akan game over alias meninggal.
            “sudah Ma, memangnya apa sih fungsi obat-obat ini?” tanya Cinta yang kesekian kalinya.
            “sana berangkat sekolah nanti telat” kata wanita yang masih amat bagus tubuhnya itu.
            “iya.. oke”
            Dengan pakaian putih birunya, Cinta pergi ke sekolah bersama Pak Min, supir pribadinya menggunakan Mercy. Sesampainya di depan gerbang sekolahnya, Cinta sudah disambut oleh Hasbi, sahabatnya sejak Cinta masih ngompol. Orang tua Hasbi adalah sahabat dekatnya orang tua Cinta, jadi jelas saja hubungan kakak adik sekaligus sahabat bisa berlangsung selama kurang lebih 13 tahun lamanya.
            “selamat pagi tuan putri...” ucap Hasbi bak pengawal kerajaan seraya tubuhnya membungkuk memberi hormat.
            Cinta tertawa, “hahaha, selamat pagi juga tuan” jawabnya dan langsung berlalu dengan menggaet tangan laki-laki yang satu tahun lebih tua darinya itu.
            “Cinta, besok kamu pergi ke rumah sakit lagi?” tanya Hasbi ketika mereka telah sampai di kelas Cinta.
            Setiap hari selasa sore, Cinta dan Mamanya harus pergi ke rumah sakit. Cinta sendiri tidak tahu itu untuk apa. Sejak usianya 10 tahun hingga sekarang, Cinta tak pernah absen untuk diinfus di ruma sakit. Kebiasaan yang menurut Hasbi itu sangat aneh! Tidak sakit kok diinfus?
            “iya Bi”
            “Oh, yaudah kamu masuk sana, istirahat nanti kamu aku samper” kata Hasbi dan langsung nyelonong pergi tanpa mendengar respon putri kecilnya.
*
            “aaaah... jangan itu obat aku Galih!” teriak Cinta. Tangannya menggapai-gapai kelangit hendak mengambil botol obat yang dirampas paksa oleh Galih. Seisi kelas tidak ada yang berkutik selain...
            “heh! Lepasin nggak tuh Obat atau lo gua...” belum sempat Hasbi menyudahi perkataannya Galih sudah mati kutu, menaruh botol transparan itu dan langsung berlari pergi.
            “kamu nggak apa-apa kan Cin?” tanya Hasbi ketika posisi mereka sudah saling hadap.
            Cinta langsung menghambur ke tubuh yang jauh lebih besar dari dirinya itu. Terisak-isak dan lalu menjawab, “kamu selalu ada buat aku Bi, makasih kak”
            Hasbi memeluk gadis mungil itu di dalam dekapannya. Selalu begini. Kalau Cinta sudah dijahili orang terutama Galih yang nggak pernah bosan menindas bidadari Hasbi itu, ia selalu menangis di pelukan Hasbi.
            “aku akan selalu ada buat kamu bidadari kecilku” katanya pelan di telinga Cinta.
*
            Hari ini Cinta pergi ke rumah sakit Mitra Keluarga pukul 4 teng! Bersama sang Mama. Dengan menggunakan Alphard hitam, mereka berdua meluncur ke rumah sakit tersebut.
            “halo Cinta, ketemu lagi kita” sapa Dr. Dimas ketika melihat gadis berambut panjang itu berlari menghampiri dirinya.
            “halo dokter, apa kabar? Cinta udah siap diinfus lagi” ucap Cinta. Setelahnya Cinta langsung di bawa ke sebuah ruangan untuk diinfus. Seperti biasa.
            Setelah lama berada di ruang berbau karbol berwarna putih suci sesuci hatinya, Cinta keluar dengan wajah... kesakitan. Seperti biasa.
            “terima kasih dokter...” kata Mamanya Cinta memecahkan keheningan.
            “Bu, sebaiknya Cinta tahu akan hal ini” balas Dr. Dimas pelan. Sangat pelan.
            “tidak Dok, saya tidak mau Cinta menganggap dirinya lemah, biarkan dia hidup normal seperti teman-temannya” kata Mamanya Cinta dengan volume yang sama.
            “bakteri Neisseria meningitidis dalam tubuh putri Anda sudah menyebar ke peredaran darah dan tidak lama lagi dia akan...”
*
            Meliana, Mamanya Cinta, kini sedang termenung di balkon rumah. Menatap sendu langit sore yang mulai tergantikan dengan awan gelap. Meliana terus memikirkan kelangsungan hidup putri sematawayangnya. Meningitis. Penyakit yang disebabkan karena peradangan pada meninges, selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang, sudah meronggoti tubuh Cinta sejak dua tahun belakangan ini.
Parahnya, Cinta mengidap Meningitis yang disebabkan karena Bakteri dan itu berarti Meliana harus siap jika suatu saat nanti Cinta akan dipanggil yang maha kuasa terkecuali sebuah keajaiban akan terjadi pada putri kecilnya.
            “Mama kenapa kok bengong aja?” tanya Cinta seraya melangkah mendekati Mamanya.
            “tidak Cinta, Mama hanya kangen dengan almarhum ayahmu” jawab Meliana.
            “Ma, Cinta kangen sama Ayah, Mama bagaimana?”
            Sepertinya akibat dari meningitis di tubuh Cinta muncul lagi. Dengan mata yang berkaca-kaca, Meliana berkata lirih, “Cinta jangan nyusul ayah ya? Mama masih butuh Cinta, Cinta juga masih kecil. Jadi, Mama mohon Cinta tetap bersama Mama”
            Cinta menatap Mamanya bingung, “maksud mama?”
*
            Malam sudah datang. Bintang di langit malam kini sedang berhamburan membentuk gugusan-gugusan indah. Namun, tiba-tiba dari dalam kamar bercat merah muda berbau aromaterapi buah strobery itu, Cinta memekik-mekik kesakitan.
            “Mama! Mamaaaaaa!” teriak Cinta, “Tolong Cinta Mama!” lanjutnya masih dengan volume yang menggelegar.
            Meliana bergegas berlari menuju kamar putrinya dengan masih mengenakan piyama, “Cinta! Cinta sadar! Bangun sayaaaaang...” kata Meliana.
            Tanpa pikir panjang Meliana langsung membawa Cinta ke rumah sakit Mitra keluarga. Dan di perjalanan tak lupa Meliana menghubungi Dr. Dimas. Terdengar dari nada bicara dokter muda itu, tampaknya ia juga sama paniknya dengan Meliana. Sekitar 15 menit akhirnya Meliana sampai di rumah sakit. Dengan satu kali teriakan histeris, para suster sudah datang berhamburan dengan membawa troli pasien untuk menaruh Cinta yang masih dalam keadaan pingsan.
            “saya sudah mengatakan hal ini sebelumnya tapi Anda menganggap hal ini remeh” kata Dr. Dimas ketika menerima kondisi Cinta yang sedang diambang kematiannya.
            “tolong selamatkan putri saya!” tegas Meliana.
            Dr. Dimas masuk ke dalam IGD. Sekitar satu jam 15 menit akhirnya ia dan tim medis yang lain keluar.
            “bakteri sudah menyebar hampir keseluruh peredaran darahnya. Cinta akan bisa bertahan paling lama tiga hari. Dan kami akan terus berusaha menyelamatkan putri Anda walau itu susah” kata Dr. Dimas panjang lebar.
            “selamatkan dia Dok, hanya dia yang saya punya. Suami saya meninggal juga karena penyakit sialana ini” balas Meliana.
            Dr. Dimas tersenyum simpul lalu menjawab, “serahkan pada Tuhan Bu”
*
            Kabar berita Cinta dirawat di rumah sakit sudah cepat menyebar. Hasbi adalah laki-laki satu-satunya yang langsung bergegas pulang meminta izin dengan alasan sakit. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung menuju tempat Cinta dirawat dengan sepeda Fixienya. Setelah 30 menit berjibaku dengan panasnya matahari akhirnya Hasbi sampai di kamar 313, tempat Cinta dirawat. Ternyata Cinta sudah siuman. Melihat kedatangan Hasbi dengan secepat kilat Cinta meraih tubuh tegap itu ke dalam pelukannya.
            “Cinta kangen Hasbi. Kok baru jenguk Cinta sih?” katanya dengan wajah cemberut.
            “Putri Hasbi yang paling manis, maafkan daku baru menjengukmu. Sungguh Hasbi panik mendengar Cinta sakit” katanya bak seorang pangeran.
            “kamu selalu bisa membuat Cinta tertawa Bi, Cinta sayang Hasbi” Balas Cinta diiringi tawa lepasnya.
            Deg! Seketika jantung Hasbi berhenti berdetak. Kata-kata Cinta cukup membuatnya limbung dan hampir jatuh terduduk saking kagetnya.
            “Cinta sayang Hasbi?” tanya Hasbi hati-hati.
            “iya dong, sebagai adik dan sahabat yang baik memang harus begitu” jawab Cinta dengan wajah berseri.
            Cinta tetaplah Cinta. Ia terlalu polos untuk bisa menyadari bahwa dari dulu Hasbi menyayanginya. Ingin menjadi lebih dari seorang sahabat atau pun kakak untuk Cinta. Namun, sepertinya Cinta lebih mengira Hasbi sayang kepada dirinya karena ia adik atau sahabat Hasbi.
*
            Hari ini Cinta amat memukau dengan rambutnya yang digerai lurus kebelakang. Sebuah bando berpita tersemat di kepalanya. Cinta kini sedang duduk di kursi roda menatap beberapa anak kecil yang sedang berlari-larian memegang bola di tangannya. Pemandangan yang amat membuat Cinta mampu menyunggingkan senyum manis di bibirnya. Walau semua orang tahu, dirinya sedang menahan beribu sakit di tubuhnya.
            Hasbi melangkah pasti menghampiri orang tersayangnya itu. Cinta tersenyum sekilas ke arahnya dan melanjutkan kembali memerhatikan anak-anak kecil di sekelilingnya.
            “kamu cantik hari ini Cinta” ucap Hasbi seraya menekuk kaki kanannya hingga menyentuh tanah di sebelah Cinta.
            “selalu dan selalu hehehe” balas Cinta. Dari nada bicaranya tidak ada secuil rasa sakit pun di tubuhnya. Namun, siapa yang tahu?
            “iya kau selalu cantik untukku Cin. Kau tahu itu”
            “ya”
            “Cinta aku ingin jujur kepadamu. Rasanya aku harus bicara sekarang juga sebelum aku menyesal” Hasbi merapatkan tubuhnya ke kursi roda Cinta.
            “bicara aja selama itu masih gratis” jawab Cinta setengah bercanda. Di tengah-tengah keadaan mencekam seperti ini masih saja Cinta bisa bercanda. Dari kejauhan terlihat Mamamnya Cinta memantau. Satu lambaian tangan menandakan bahwa Mamanya Cinta sedang bilang “sayang Mama disini”
            Cinta hanya tersenyum membalas lambaian itu dan lanjut menatap Hasbi.
            “aku mencintaimu” kata Hasbi pelan.
            “aku tidak mendengarnya Bi, lebih kencang lagi” balas Cinta.
            “aku mencintaimu Cinta” volume suara Hasbi mengeras sehingga mengundang tatapan bingung orang-orang di sekitarnya.
            “iya aku tahu” timpal Cinta biasa.
            “aku mencintaimu lebih dari sahabat atau pun kakak. Aku cinta padamu”
            Cinta tiba-tiba mencengkeram lehernya sendiri. Seperti ingin memberitahu bahwa ia tiba-tiba kesulitan bernafas.
            “kau kenapa Cinta?” pekik Hasbi seraya mengguncang-guncang tubuh mungil itu.
            Meliana tiba-tiba datang dengan dua orang sukter plus satu troli pasien. Dengan sekuat tenaga, Hasbi merebahkan tubuh Cinta di atasnya. Dengan mata penuh air mata, Hasbi ikut dengan Cinta.
            “Tante... sebenarnya Cinta sakit apa?” tanya Hasbi di tengah-tengah perjalanan. “apa dia akan mati?” lanjutnya hati-hati.
            Setelah Cinta ditangani Dr. Dimas dan tim medis lainnya di dalam IGD, barulah Meliana menjawab, “Cintaaaaa... umurnya hanya sampai—“ kata-katanya terhenti. Setelah mengatur deru nafasnya yang tidak stabil, Meliana kembali berkata, “hari ini”
            Isak tangis keduanya keluar kepermukaan. Hasbi tidak habis pikir, perasaannya selama tiga hari belakangan ini benar. Cinta akan segera meninggalkannya dan Hasbi tidak ingin Cinta tidak mengetahui betapa besar cintanya pada Cinta. Dan untunglah Hasbi sudah melakukannya tadi.
            Dr. Dimas keluar. Para tim medis berangusr-angsur juga ikut keluar. Wajah mereka diselimuti kekecewaan. Apa Cinta sudaaaah...
            “Dok! Bagaimana dengan Cinta?” tanya Hasbi lebih dulu.
            “dia baik-baik saja kan?” tanya Meliana setelah itu.
            “dia sudah kembali ke sisinya Bu, Nak. Dan sebelum menghebuskan nafas terakhir Cinta sempat mengigau kalau dia mencintai Mamanya dan—“ kata-kata Dr. Dimas tersendat begitu saja. “dan Hasbi, siapa itu? Kau?” lanjutnya seraya menunjuk Hasbi yang masih dalam keadaan terpukul
            “iya” jawab Hasbi lirih.
            Oh tuhan! Ternyata Cinta juga mencintaiku, tapi kenapa dia hanya diam saja tadi. Memandangiku seperti aku hanya kakak atau sahabatnya? Tapi sudahlah yang penting aku mengetahui rasa cinta di diri Cinta untukku. Dan ku harap Cinta tenang di sisi Tuhan, amin, batin Hasbi dengan tangis yang mengalir deras membasahi pipinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar