Tiga
Hari Untuk Cinta
“Cintaaaa... minum obatnya”
Suara setengah melengking itu selalu
keluar dari mulut Mamanya Cinta. Seakan bila tidak menenggak butiran pil kecil
itu, Cinta akan game over alias meninggal.
“sudah Ma, memangnya apa sih fungsi
obat-obat ini?” tanya Cinta yang kesekian kalinya.
“sana berangkat sekolah nanti telat”
kata wanita yang masih amat bagus tubuhnya itu.
“iya.. oke”
Dengan pakaian putih birunya, Cinta
pergi ke sekolah bersama Pak Min, supir pribadinya menggunakan Mercy. Sesampainya
di depan gerbang sekolahnya, Cinta sudah disambut oleh Hasbi, sahabatnya sejak
Cinta masih ngompol. Orang tua Hasbi adalah sahabat dekatnya orang tua Cinta,
jadi jelas saja hubungan kakak adik sekaligus sahabat bisa berlangsung selama
kurang lebih 13 tahun lamanya.
“selamat pagi tuan putri...” ucap
Hasbi bak pengawal kerajaan seraya tubuhnya membungkuk memberi hormat.
Cinta tertawa, “hahaha, selamat pagi
juga tuan” jawabnya dan langsung berlalu dengan menggaet tangan laki-laki yang
satu tahun lebih tua darinya itu.
“Cinta, besok kamu pergi ke rumah
sakit lagi?” tanya Hasbi ketika mereka telah sampai di kelas Cinta.
Setiap hari selasa sore, Cinta dan
Mamanya harus pergi ke rumah sakit. Cinta sendiri tidak tahu itu untuk apa.
Sejak usianya 10 tahun hingga sekarang, Cinta tak pernah absen untuk diinfus di
ruma sakit. Kebiasaan yang menurut Hasbi itu sangat aneh! Tidak sakit kok
diinfus?
“iya Bi”
“Oh, yaudah kamu masuk sana,
istirahat nanti kamu aku samper” kata Hasbi dan langsung nyelonong pergi tanpa
mendengar respon putri kecilnya.
*
“aaaah... jangan itu obat aku
Galih!” teriak Cinta. Tangannya menggapai-gapai kelangit hendak mengambil botol
obat yang dirampas paksa oleh Galih. Seisi kelas tidak ada yang berkutik
selain...
“heh! Lepasin nggak tuh Obat atau lo
gua...” belum sempat Hasbi menyudahi perkataannya Galih sudah mati kutu,
menaruh botol transparan itu dan langsung berlari pergi.
“kamu nggak apa-apa kan Cin?” tanya
Hasbi ketika posisi mereka sudah saling hadap.
Cinta langsung menghambur ke tubuh
yang jauh lebih besar dari dirinya itu. Terisak-isak dan lalu menjawab, “kamu
selalu ada buat aku Bi, makasih kak”
Hasbi memeluk gadis mungil itu di
dalam dekapannya. Selalu begini. Kalau Cinta sudah dijahili orang terutama
Galih yang nggak pernah bosan menindas bidadari Hasbi itu, ia selalu menangis
di pelukan Hasbi.
“aku akan selalu ada buat kamu
bidadari kecilku” katanya pelan di telinga Cinta.
*
Hari ini Cinta pergi ke rumah sakit
Mitra Keluarga pukul 4 teng! Bersama sang Mama. Dengan menggunakan Alphard
hitam, mereka berdua meluncur ke rumah sakit tersebut.
“halo Cinta, ketemu lagi kita” sapa
Dr. Dimas ketika melihat gadis berambut panjang itu berlari menghampiri
dirinya.
“halo dokter, apa kabar? Cinta udah
siap diinfus lagi” ucap Cinta. Setelahnya Cinta langsung di bawa ke sebuah
ruangan untuk diinfus. Seperti biasa.
Setelah lama berada di ruang berbau
karbol berwarna putih suci sesuci hatinya, Cinta keluar dengan wajah...
kesakitan. Seperti biasa.
“terima kasih dokter...” kata
Mamanya Cinta memecahkan keheningan.
“Bu, sebaiknya Cinta tahu akan hal
ini” balas Dr. Dimas pelan. Sangat pelan.
“tidak Dok, saya tidak mau Cinta
menganggap dirinya lemah, biarkan dia hidup normal seperti teman-temannya” kata
Mamanya Cinta dengan volume yang sama.
“bakteri Neisseria meningitidis
dalam tubuh putri Anda sudah menyebar ke peredaran darah dan tidak lama lagi
dia akan...”
*
Meliana, Mamanya Cinta, kini sedang
termenung di balkon rumah. Menatap sendu langit sore yang mulai tergantikan
dengan awan gelap. Meliana terus memikirkan kelangsungan hidup putri
sematawayangnya. Meningitis. Penyakit yang disebabkan karena peradangan pada
meninges, selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang, sudah meronggoti tubuh
Cinta sejak dua tahun belakangan ini.
Parahnya, Cinta mengidap Meningitis yang disebabkan
karena Bakteri dan itu berarti Meliana harus siap jika suatu saat nanti Cinta
akan dipanggil yang maha kuasa terkecuali sebuah keajaiban akan terjadi pada
putri kecilnya.
“Mama kenapa kok bengong aja?” tanya
Cinta seraya melangkah mendekati Mamanya.
“tidak Cinta, Mama hanya kangen
dengan almarhum ayahmu” jawab Meliana.
“Ma, Cinta kangen sama Ayah, Mama
bagaimana?”
Sepertinya akibat dari meningitis di
tubuh Cinta muncul lagi. Dengan mata yang berkaca-kaca, Meliana berkata lirih,
“Cinta jangan nyusul ayah ya? Mama masih butuh Cinta, Cinta juga masih kecil.
Jadi, Mama mohon Cinta tetap bersama Mama”
Cinta menatap Mamanya bingung,
“maksud mama?”
*
Malam sudah datang. Bintang di
langit malam kini sedang berhamburan membentuk gugusan-gugusan indah. Namun,
tiba-tiba dari dalam kamar bercat merah muda berbau aromaterapi buah strobery
itu, Cinta memekik-mekik kesakitan.
“Mama! Mamaaaaaa!” teriak Cinta,
“Tolong Cinta Mama!” lanjutnya masih dengan volume yang menggelegar.
Meliana bergegas berlari menuju
kamar putrinya dengan masih mengenakan piyama, “Cinta! Cinta sadar! Bangun
sayaaaaang...” kata Meliana.
Tanpa pikir panjang Meliana langsung
membawa Cinta ke rumah sakit Mitra keluarga. Dan di perjalanan tak lupa Meliana
menghubungi Dr. Dimas. Terdengar dari nada bicara dokter muda itu, tampaknya ia
juga sama paniknya dengan Meliana. Sekitar 15 menit akhirnya Meliana sampai di
rumah sakit. Dengan satu kali teriakan histeris, para suster sudah datang
berhamburan dengan membawa troli pasien untuk menaruh Cinta yang masih dalam
keadaan pingsan.
“saya sudah mengatakan hal ini
sebelumnya tapi Anda menganggap hal ini remeh” kata Dr. Dimas ketika menerima
kondisi Cinta yang sedang diambang kematiannya.
“tolong selamatkan putri saya!”
tegas Meliana.
Dr. Dimas masuk ke dalam IGD.
Sekitar satu jam 15 menit akhirnya ia dan tim medis yang lain keluar.
“bakteri sudah menyebar hampir
keseluruh peredaran darahnya. Cinta akan bisa bertahan paling lama tiga hari.
Dan kami akan terus berusaha menyelamatkan putri Anda walau itu susah” kata Dr.
Dimas panjang lebar.
“selamatkan dia Dok, hanya dia yang
saya punya. Suami saya meninggal juga karena penyakit sialana ini” balas
Meliana.
Dr. Dimas tersenyum simpul lalu
menjawab, “serahkan pada Tuhan Bu”
*
Kabar berita Cinta dirawat di rumah
sakit sudah cepat menyebar. Hasbi adalah laki-laki satu-satunya yang langsung
bergegas pulang meminta izin dengan alasan sakit. Tanpa pikir panjang lagi, ia
langsung menuju tempat Cinta dirawat dengan sepeda Fixienya. Setelah 30 menit
berjibaku dengan panasnya matahari akhirnya Hasbi sampai di kamar 313, tempat
Cinta dirawat. Ternyata Cinta sudah siuman. Melihat kedatangan Hasbi dengan
secepat kilat Cinta meraih tubuh tegap itu ke dalam pelukannya.
“Cinta kangen Hasbi. Kok baru jenguk
Cinta sih?” katanya dengan wajah cemberut.
“Putri Hasbi yang paling manis,
maafkan daku baru menjengukmu. Sungguh Hasbi panik mendengar Cinta sakit”
katanya bak seorang pangeran.
“kamu selalu bisa membuat Cinta
tertawa Bi, Cinta sayang Hasbi” Balas Cinta diiringi tawa lepasnya.
Deg! Seketika jantung Hasbi berhenti
berdetak. Kata-kata Cinta cukup membuatnya limbung dan hampir jatuh terduduk
saking kagetnya.
“Cinta sayang Hasbi?” tanya Hasbi
hati-hati.
“iya dong, sebagai adik dan sahabat
yang baik memang harus begitu” jawab Cinta dengan wajah berseri.
Cinta tetaplah Cinta. Ia terlalu
polos untuk bisa menyadari bahwa dari dulu Hasbi menyayanginya. Ingin menjadi
lebih dari seorang sahabat atau pun kakak untuk Cinta. Namun, sepertinya Cinta
lebih mengira Hasbi sayang kepada dirinya karena ia adik atau sahabat Hasbi.
*
Hari ini Cinta amat memukau dengan
rambutnya yang digerai lurus kebelakang. Sebuah bando berpita tersemat di
kepalanya. Cinta kini sedang duduk di kursi roda menatap beberapa anak kecil
yang sedang berlari-larian memegang bola di tangannya. Pemandangan yang amat
membuat Cinta mampu menyunggingkan senyum manis di bibirnya. Walau semua orang
tahu, dirinya sedang menahan beribu sakit di tubuhnya.
Hasbi melangkah pasti menghampiri
orang tersayangnya itu. Cinta tersenyum sekilas ke arahnya dan melanjutkan
kembali memerhatikan anak-anak kecil di sekelilingnya.
“kamu cantik hari ini Cinta” ucap
Hasbi seraya menekuk kaki kanannya hingga menyentuh tanah di sebelah Cinta.
“selalu dan selalu hehehe” balas
Cinta. Dari nada bicaranya tidak ada secuil rasa sakit pun di tubuhnya. Namun,
siapa yang tahu?
“iya kau selalu cantik untukku Cin.
Kau tahu itu”
“ya”
“Cinta aku ingin jujur kepadamu.
Rasanya aku harus bicara sekarang juga sebelum aku menyesal” Hasbi merapatkan
tubuhnya ke kursi roda Cinta.
“bicara aja selama itu masih gratis”
jawab Cinta setengah bercanda. Di tengah-tengah keadaan mencekam seperti ini
masih saja Cinta bisa bercanda. Dari kejauhan terlihat Mamamnya Cinta memantau.
Satu lambaian tangan menandakan bahwa Mamanya Cinta sedang bilang “sayang Mama
disini”
Cinta hanya tersenyum membalas
lambaian itu dan lanjut menatap Hasbi.
“aku mencintaimu” kata Hasbi pelan.
“aku tidak mendengarnya Bi, lebih
kencang lagi” balas Cinta.
“aku mencintaimu Cinta” volume suara
Hasbi mengeras sehingga mengundang tatapan bingung orang-orang di sekitarnya.
“iya aku tahu” timpal Cinta biasa.
“aku mencintaimu lebih dari sahabat
atau pun kakak. Aku cinta padamu”
Cinta tiba-tiba mencengkeram
lehernya sendiri. Seperti ingin memberitahu bahwa ia tiba-tiba kesulitan
bernafas.
“kau kenapa Cinta?” pekik Hasbi
seraya mengguncang-guncang tubuh mungil itu.
Meliana tiba-tiba datang dengan dua
orang sukter plus satu troli pasien. Dengan sekuat tenaga, Hasbi merebahkan
tubuh Cinta di atasnya. Dengan mata penuh air mata, Hasbi ikut dengan Cinta.
“Tante... sebenarnya Cinta sakit
apa?” tanya Hasbi di tengah-tengah perjalanan. “apa dia akan mati?” lanjutnya
hati-hati.
Setelah Cinta ditangani Dr. Dimas
dan tim medis lainnya di dalam IGD, barulah Meliana menjawab, “Cintaaaaa...
umurnya hanya sampai—“ kata-katanya terhenti. Setelah mengatur deru nafasnya
yang tidak stabil, Meliana kembali berkata, “hari ini”
Isak tangis keduanya keluar
kepermukaan. Hasbi tidak habis pikir, perasaannya selama tiga hari belakangan
ini benar. Cinta akan segera meninggalkannya dan Hasbi tidak ingin Cinta tidak
mengetahui betapa besar cintanya pada Cinta. Dan untunglah Hasbi sudah
melakukannya tadi.
Dr. Dimas keluar. Para tim medis
berangusr-angsur juga ikut keluar. Wajah mereka diselimuti kekecewaan. Apa
Cinta sudaaaah...
“Dok! Bagaimana dengan Cinta?” tanya
Hasbi lebih dulu.
“dia baik-baik saja kan?” tanya
Meliana setelah itu.
“dia sudah kembali ke sisinya Bu,
Nak. Dan sebelum menghebuskan nafas terakhir Cinta sempat mengigau kalau dia
mencintai Mamanya dan—“ kata-kata Dr. Dimas tersendat begitu saja. “dan Hasbi,
siapa itu? Kau?” lanjutnya seraya menunjuk Hasbi yang masih dalam keadaan
terpukul
“iya” jawab Hasbi lirih.
Oh tuhan! Ternyata Cinta juga
mencintaiku, tapi kenapa dia hanya diam saja tadi. Memandangiku seperti aku
hanya kakak atau sahabatnya? Tapi sudahlah yang penting aku mengetahui rasa
cinta di diri Cinta untukku. Dan ku harap Cinta tenang di sisi Tuhan, amin,
batin Hasbi dengan tangis yang mengalir deras membasahi pipinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar